Tahun Penuh Perjuangan…
Bisa juga dibilang begitu, untuk tahun 2011. Mulai dari kucing jantan yang kencing sembarangan sampai politikus di gedung DPR yang juga ikut-ikutan kucing jantan “kencing sembarangan”.
“Bukan main…!” kata salah satu teman blogger (Kodoy)
Karena kelamaan nunggu loading halaman (maklum, pakai modem bekas keluaran tahun 2008 dan layanan operator yang kata anak-anak sekarang tuh lelet…) sehingga beberapa ide tulisan lenyap begitu saja disapu asap rokok.
Kembali ke sampul halaman….
Tahun 2011 memang banyak diwarnai accidents and actions, mulai dari bidang olahraga sampai gerakan rakyat di Indonesia.
Tapi masalah utamanya bukan pada bagaimana kita memperbaiki masalah yang sudah mulai amburadul dalam perjalanan kehidupan kita, tapi lebih pada arah bagaimana kita merubah pola pikir kita agar arahnya selalu positif tidak hanya bagi diri tapi juga bagi orang-orang yang terus-menerus berinteraksi dengan keseharian kita. Bagaimana cara kita agar lebih open-minded, mengatasi masalah tanpa masalah, bukannya mengatasi masalah dengan anarkis, mengatasi masalah selalu dengan kekerasan, mengatasi masalah selalu dengan merusak (memecahkan gelas, piring, perabotan, dll *red). Belajar menjadi bijak mengambil keputusan dalam berbagai masalah memang tidak mudah, tapi bukan pula hal yang mustahil.
Belajarlah menggunakan kata-kata yang lemah lembut agar hati kita juga ikut lembut.
Selamat Jalan 2011.
2011 au revoir
Ditulis dalam Tak terkategori
Obama dan Pidato Depok
“Selamat pagi, assalamualaikum, salam sejahtera” ujar Obama membuka pidatonya. Tepuk tangan pun bergema panjang karena ucapan salam dalam bahasa Indonesia itu. Obama seakan ingin membunuh jarak antara dia dengan para hadirin, dan juga rakyat Indonesia yang menyaksikan pidato itu dari televisi.
Di depan sekitar 7.500 undangan, dan penjagaan super ketat, pidato Obama memukau publik yang hadir.
Sejumlah tokoh Indonesia hadir menyimak pidato Obama, antara lain mantan Presiden BJ Habibie, Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng, Menteri Pendidikan Nasional M Nuh, dan Menteri Pemberdayaan Perempuan Linda Gumelar.
Selain itu tampak pula tokoh pengusaha seperti Hary Tanoesoedibjo, Menteri Tenaga Kerja Muhaimin Iskandar, dan Adhyaksa Dault. Terlihat juga teman-teman Obama saat bersekolah di SD Asisi, Menteng Dalam.
Pada pidato itu, setidaknya Barack Obama menyebutkan tiga hal yang menjadi perhatian selama kunjungannya ke Indonesia. Tiga hal itu adalah pembangunan, demokrasi, dan keyakinan beragama. “Indonesia dan Amerika saling bergantung. Contohnya adalah peningkatan ekonomi di kalangan menengah berarti juga pasar baru bagi ekspor AS,” ujar Obama.
Dalam soal pembangunan, Obama menyebutkan Indonesia dan Amerika memiliki hubungan yang kuat dan bergantung satu sama lain. Indonesia juga dinilai berperan besar dalam peningkatan ekonomi global.
Menurut Obama, Indonesia sebagai negara anggota G20 memiliki tanggung jawab dalam keseimbangan perekonomian dunia. “Indonesia harus memimpin dalam perekonomian global serta menerapkan transparansi,” ujarnya lagi.
Dalam soal demokrasi, Obama mengaku takjub dengan perubahan yang terjadi selama dia meninggalkan Indonesia. Dia menceritakan kenangannya di tahun 1967 dimana rakyat Indonesia diliputi ketakutan dalam menyuarakan aspirasinya. “Dalam beberapa tahun ini, Indonesia telah menjadi negara demokratis. Hal ini dapat dilihat dari pemilihan presiden dan legislatif serta masyarakat sipil yang dinamis,” ujar Obama.
Indonesia dinilai juga merupakan negara dengan toleransi beragama yang tinggi. Dia mencontohkan masjid dan gereja yang dibangun berdampingan. Sebelum ke Universitas Indonesia, Obama sempat mengunjungi Masjid Istiqlal, sebagai bukti niatnya serius berdialog dengan dunia Muslim.
Tindakan itu tampaknya konsisten dengan pidato yang disampaikannya di Kairo, yang dikenal sebagai “Cairo Speech” saat Obama mengunjungi Mesir beberapa waktu lalu. “Pidato Depok” di Universitas Indonesia, juga menegaskan kembali sikap Obama, “yang tak pernah menjadikan Islam sebagai musuh”.
Mantan Presiden BJ Habibie menilai pidato Obama lebih banyak menyinggung sumber daya manusia (SDM). Bahkan Habibie menilai Obama juga bicara tentang pentingnya perpaduan iman dan takwa (imtak) dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). “Yang sangat menarik pidato Obama dari awal sampai akhir itu mengenai SDM,” kata Habibie usai pidato Obama di UI. “Dia juga cerita kerjasama imtak dan iptek,” lanjutnya.
Obama, menurut Habibie, menegaskan pentingnya demokrasi, pembangunan, dan agama. Itu pula, yang dalam versi Habibie, dianggap sebagai contoh penggabungan Imtak dan Iptek. “Imtak kan agama dan budaya. Iptek itu ilmu. Pidato tadi konsentrasi pada pengembangan SDM yang harus ditingkatkan. Itu berfungsi dengan ketiga elemen itu, budaya, agama, dan iptek,” ujar Habibie.
Dalam pidatonya di Universitas Indonesia, Obama menegaskan kontribusi Amerika atas keberhasilan manusia Indonesia. Untuk itu, dia menginginkan adanya peningkatan kerjasama ilmuwan dan peneliti Amerika dengan Indonesia, serta kerja sama di wilayah wirausaha.
“Saya pribadi puas karena kita berhasil meningkatkan jumlah pelajar Amerika dan Indonesia yang meneruskan pendidikan di universitas yang ada pada kedua negara,” ujar Obama. (Nezar Patria, Bayu Galih : VIVAnews)
Namun kemudian pertanyaannya adalah bagaimana mungkin seorang Obama yang hanya beberapa tahun tinggal di Indonesia lebih mengenal adat-istiadat dan atau dasar-dasar kenegaraan negara ini dibandingkan orang Indonesia sendiri?
Ditulis dalam Politics


